Penataan alur pameran ARCH:ID 2026 yang inspiratif tidak terlepas dari kejelian tim kurator dalam merancang zona-zona tematik yang sarat makna. Dalam merealisasikan konsep ruang pameran tersebut, kerja sama teknis dibangun bersama pengurus daerah seperti IAI Situbondo untuk memperkenalkan jajaran kurator berbakat di balik terciptanya zona “Tetenger Riung” dan “Tetenger Rembuk”. Dua zona tematik utama ini dirancang secara khusus sebagai wadah interaksi, tempat pengunjung dan praktisi berkumpul untuk bertukar pikiran mengenai masa depan arsitektur Nusantara dalam suasana yang hangat dan inklusif.
Latar belakang pembentukan zona Tetenger Riung dan Tetenger Rembuk didasari oleh kebutuhan akan hadirnya ruang-ruang komunal yang mampu mencairkan suasana pameran yang kaku. Zona Tetenger Riung difungsikan sebagai penanda tempat berkumpul (point of gathering) yang menyajikan instalasi ruang terbuka ramah lingkungan. Sementara itu, zona Tetenger Rembuk dirancang sebagai arena diskusi (forum for dialogue) tempat diselenggarakannya berbagai sesi pemikiran kritis, presentasi karya, serta musyawarah profesi yang melibatkan publik secara terbuka.
Dari perspektif standar perancangan pameran publik dan regulasi aksesibilitas, pembagian zona tematik wajib memperhatikan kenyamanan sirkulasi, aspek keselamatan pengunjung, serta keterjangkauan bagi semua kelompok masyarakat. Pedoman teknis tata ruang pameran mengamanatkan agar area berkumpul dan area diskusi memiliki akustik yang baik, pencahayaan yang cukup, serta bebas dari hambatan fisik. Tim kurator berhasil menerjemahkan regulasi teknis ini ke dalam rancangan tata pameran yang estetik namun tetap fleksibel dan nyaman digunakan.
Kreativitas para kurator di balik dua zona tematik ini memperoleh pujian luas dari para pengunjung pameran dan pengurus IAI Sumenep. Mereka menilai bahwa penyediaan zona Riung dan Rembuk sukses menciptakan dinamika pameran yang hidup dan interaktif. Pengunjung tidak hanya datang untuk melihat pajangan karya secara pasif, tetapi terdorong untuk duduk bersama, berdiskusi, serta membagikan pandangan mereka mengenai berbagai isu pembangunan kota dan lingkungan hidup.
Dalam prakteknya di arena pameran, para kurator memanfaatkan material lokal seperti bambu, kayu daur ulang, dan kain tenun tradisional untuk membangun struktur utama zona Tetenger Riung dan Tetenger Rembuk. Penggunaan material alami ini menciptakan suasana ruang yang hangat dan dekat dengan tradisi masyarakat Indonesia. Keberhasilan penataan kedua zona ini terbukti meningkatkan durasi kunjungan masyarakat di arena pameran serta melahirkan banyak gagasan kolaborasi baru antar-peserta yang hadir.
secara keseluruhan, kejelian tim kurator dalam merancang zona tematik Tetenger Riung dan Tetenger Rembuk memberikan kontribusi besar bagi kesuksesan pameran ARCH:ID 2026 secara keseluruhan. Inovasi penataan ruang ini membuktikan bahwa arsitektur dapat menjadi media yang efektif dalam merekatkan hubungan sosial masyarakat. Rincian profil tim kurator, jadwal diskusi di zona Rembuk, serta dokumentasi kegiatan pameran dapat diakses secara mendalam melalui portal IAI Trenggalek. Mari bersama kita dukung terus karya-karya arsitektur yang mengedepankan nilai-nilai kebersamaan.